God is typing. . .
The Engagedment
Siapa Imam al Ghazali ?
Imam al-Ghazali (1054-1111 M) adalah salah satu filsuf paling berpengaruh, teolog, ahli hukum dan seorang sufi kenamaan dalam tradisi Sunni. Dia hidup pada saat teologi Sunni sedang mengahadapi tantangan besar dari suburnya paham Syiah Ismaili dan berkembangnya aliran Aristotelian sebagai akibat dari penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab.
Di umurnya yang masih belia, bersama saudaranya Ahmad mendapatkan pengajaran di kampung halamannya Tus (sebuah kota kuno di provinsi Khurosan, Iran) tentang dasar-dasar ilmu agama. Menginjak dewasa dia melanjutkan studi kepada seorang Asyari bernama Imam al-Juwaini di madrasah Nizamiya di Naisabur, wiliayah timur laut Iran.
Dari madrasah tersebut al Ghazali memiliki hubungan yang, dekat dengan Sultan Malik Syah dan Wazir Nizam al-Mulk. Kedekatannya dengan kedua orang penting dalam pemerintahan tersebut membuatnya tersohor di kalangan intelektual. Kedekatan tersebut tidak semata kedekatan antara pemimpin dan ilmuwan, tapi terjadi karena kadar keilmuannya yang luas dan mendalam di hampir semua disiplin ilmu. Tak heran jika tak lama setalah itu dia diangkat menjadi pimpinan tertinggi di lembaga keilmuan paling tersohor di dunia Islam saat itu.
Namun, tak lama setelah menjabat sebagai orang terpenting di lembaga pendidikan yang disponsori pemerintah membuatnya menyadari satu hal bahwa "standar etika yang tinggi dalam nilai keseluruhan agama tidak bisa dengan menjadi pembantu sultan, wazir dan khalifa, karena, mendapat keuntungan dari kekayaan para elit menandakan keterlibatan dalam pemerintahan yang korup dan menindas yang akan memperlambat penyucian dosa di akhirat kelak."
Setelah empat tahun menjabat di Madrasah Nizamiyah, alGhazali memutuskan untuk keluar, meninggalkan jabatan serta segala kemewahan yang diberikan, kemudian pergi, berkelana mencari dirinya yang lama hilang.
Pada tahun 1095 M dia pergi meninggalkan Baghdad menuju ke Damaskus dan Yerusalem untuk mengadu pada makam Ibrahim di Hebron dan bersumpah untuk tidak akan lagi mengajar di lembaga yang diprakarsai oleh pemerintah tersebut, dan akan mengabdikan dirinya di madrasah kecil di tanah kelahirannya.
Setahun setelah itu dia memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji, setelah itu kembali ke kampung halamannya Tus guna menepati sumpahnya, yakni mengabdikan diri sepenuhnya pada pendidikan non-pemerintah dengan mendirikan lembaga pendidikan dan majelis sufi. Dari situ, lahirlah sebuah karya monumental yang terkenal itu, Ihyâ' 'Ulûmiddin - karya literasi terbesar dalam sejarah Islam,
Secara bahasa ia berarti menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Di dalamnya berisi tuntunan komprehensif etika berperilaku muslim sehari-hari. Terbagi menjadi empat bagian yang masing-masing bagian memiliki sepuluh sub pembahasan.
Bagian pertama membahas praktik-praktik ibadah seharihari (ibadah), bagian kedua berkaitan dengan segala perilaku sosial (adat), bagian ketiga tentang perbuatan yang membawa pada kehancuran (muhlikat), dan yang terakhir berkaitan dengan penyucian diri menuju kesuksesan akhirat (munjiyat).
Kitab “Ihya' memiliki peran yang sangat penting dalam menyempurnakan ibadah seorang muslim yang terjebak pada pelaksanaan ibadah yang dilakukan hanya sebatas ritual guna menggugurkan kewajiban saja, karena kitab ini tidak sekadar mengajarkan tata cara beribadah menurut hukum fikih semata. Lebih jauh, al-Ghazali mengajarkan hikmah-hikmah di balik setiap ibadah lalu memberikan mengajarkan nilai-nilai sufistik yang terkandung di dalam setiap laku ibadah.
Apabila kita melihat periode kehidupan al-Ghazali maka akan kita menemukan tiga periode kehidupan yang dilaluinya. Pertama, masa pembelajaran yaitu dimulai sejak kecil di kampung halamannya kemudian dilanjutkan di Jurjan dan akhirnya Naisabur.
Kedua, berada pada puncak karir intelektualnya sebagai pimpinan tertinggi di Komunitas Islam Bagdad. Periode ini memang pendek, namun memiliki pengaruh yang sangat penting buat dirinya. Di saat itu selain sibuk menjadi pengajar dia juga menjawab berbagai pertanyaan yang disampaikan kepadanya dari berbagai kalangan dan latar belakang ideologi yang berbeda-beda, termasuk dari orang-orang yang mempelajari filsafat. Di periode inilah al-Ghazali banyak menemukan kerancuan kerancuan dalam filsafat, khusunya filsafat Yunani. Dari situlah muncul gagasan untuk menulis berbagai kitab untuk memberi tanggapan atas kerancuan-kerancuan dalam filsafat.
Ketiga, periode pengunduran diri dan ber-uzlah. Di periode ini al-Ghazali banyak merenungi apa yang telah dia lakukan di masa masa kejayaannya sebagai tokoh intelektual terpenting saat itu,
Ketiga periode yang dilalui itu masing-masing memiliki perannya masing-masing dalam pembentukan karakter al-Ghazali, namun pada periode yang terakhirlah beliau dikenal luas oleh dunia lantaran karya-karya monumentalnya bermunculan begitu deras. Salah satunya adalah kitab Thyâ' 'Ulümiddin ini. Disebut sebagai karya terbesar yang pernah ditulis olehnya.
Dalam edisi kali ini penerbit ingin mengajak pembaca untuk mengenal sosok Imam al-Ghazali, Sang Hujjatul Islam lebih dekat melalui karya yang lahir di akhir hidupnya, periode di mana alGhazali telah sempurna sebagai manusia, kenapa? Karena telah sampai pada pilihan untuk meninggalkan segala apa yang dicapai selama hidupnya dan memilih untuk kembali ke jalan sederhana, hidup apa adanya di tanah kelahirannya sebagai guru.
Dari suguhan yang kami berikan ini kami berharap agar inti-inti ajaran Islam yang sering dilupakan ini dapat dipelajari dengan mudah oleh siapapun dari latar belakang manapun. Karena memahami kitab ini dalam bahasa aslinya tidaklah mudah. Karya yang ditulis hampir seribu tahun ini memiliki karakter kepenulisan yang berbeda dari karakter kepenulisan sekarang, Oleh karena itu, kami mencoba menerjemahkan buku ini sebaik mungkin tanpa menghilangkan sedikitpun esensi yang terkandung di dalamnya. Wasalam.